Udara yang saban hari biasa kala itu menjadi debu kelam yang menyesakkan dan aroma-aroma tak biasa.
Sejak tujuh hari yang kacau, wilayah ini begitu berbeda dan membuat isi kepala menyiarkan siaran yang tak biasa di nalar.
Jaringan mati, listrik padam, dan setiap sudut adalah gambaran horror di bawah langit yang selalu terasa mendung.
Aku datang, menembus labirin kehancuran hanya mencari orang tua yang tak mendapat kabar sedari berhari-hari lalu.
Bencana ini telah mencabut lebih dari sekadar bangunan, ia mencabut keriangan yang kerap terlintas di kepala
Kepiluan merayap dingin di ulu hati, mencekik logika waras sembari melintasi puing-puing tanpa alas kaki sehingga bersua sepasang yang dicari.
Sepasang jiwa itu lantas bertanya, kenapa ke sini?
Sontak kerinduan yang mencekam hilang melihat tawa sumbringah sembari berkata ketidakinginannya kami hadir di wilayah yang porak-poranda.
Mereka secara fisik sehat, tetapi sebagian dari jiwa mereka terasa kumuh bersama wilayah sedari dulu hancur.
Meninggalkan lokasi ini sementara waktu adalah keharusan, kami harus pergi ke seberang wilayah serta kenangan tak kasatmata bahwa hidup harus tetap dilanjutkan dan beban pikiran.


